Work permit sudah di tangan termasuk juga Social Security Card number. Ini dia yang paling dicari-cari para imigran yang ingin bisa mencari kerjaan di negerinya Paman Sam ini, selain Green Card atau saat ini lebih sering disebut Permanent Resident.
So, it seemed everything is perfect, tinggal apply job, interview dan hopefully bisa mendapat pekerjaan atau bagi saya having job berarti having life! Menurut saya bangun pagi dan surfing di internet all day (terkadang all night) bukanlah arti hidup yang sesungguhnya. Bagi saya, punya kerjaan dan bisa menghasilkan duit sendiri itu penting sekali, terutama untuk kesehatan mental. Bagi yang sudah terbiasa punya kerjaan and then lost it, you know what I mean…
Situs cari kerja online yang paling ngetop saat ini mungkin Monster.com, nah dengan dibantu suami saya membuat resume dan diposting di situs tersebut. Sudah lama juga daftar/ punya account di Monster, tapi karena saat itu belum punya work permit jadi tidak pernah digunakan.
Selain Monster, ada juga Career Builders, Yahoo Hot Jobs, Jobing dan banyak lagi. Tapi saya lebih tertarik dengan Craigslist. Mungkin karena situs ini minus banner-banner iklan yang menggangu ditambah lagi easy to browse around dan bebas freezing.
Terkadang saat browsing, rasa less confident kerap muncul. Pasalnya, saya belum pernah kerja di bidang lain selain jurnalisme. Tapi, saya tahu diri untuk tidak apply ke media di sini, karena untuk standard di sini, my English is still suck! Jadi ya “terpaksa” hanya mengintip pekerjaan setaraf “entry level” doang.
Tapi, apakah itu mempermudah job hunting saya? Oh, tidak. Karena biasanya mereka mengharuskan calon pekerjanya untuk at least punya pengalaman selama satu atau dua tahun entah itu sebagai reseptionist, front desk atau clerk. Bisa mengoperasikan multi phone line, punya bakat komunikasi yang baik, lisan ataupun tulisan, pintar Excel kalau melamar di bidang Data Entry. I don’t have all that experience and my Excel is really suck!
Iya memang waktu masih jadi wartawan punya pengalaman nelpon para sumber, tapi ini berbeda karena you have to talk in English, dan saya menyadari kalau kemampuan saya “listening on the phone” masih sangat terbatas.
Dan… Secara tak sengaja membaca iklan yang menyebutkan mereka butuh staff untuk kampanye bertemakan “Save The Children”. Entah kenapa waktu baca deskripsi pekerjaan tersebut, seperti ada goosebumps. Rasanya ini dia pekerjaan yang cocok dengan saya. Tidak perlu trapped di kantoran, bisa pakai jeans dan being out all day. Tapi, karena disebutkan bakal ada fundraising sempat khawatir bakal door to door atau paling jelek talking on the phone.
Anyway, nekat telpon dan di hari yang sama dapat wawancara. Bukan pagi, bukan siang tapi jam tujuh malam! Kantor mereka di Ocean Beach, 15 menitan lewat mobil, satu jam kalau pake bis.
Sesampe di sana, ada dua orang lainnya juga yang datang untuk interview. Dinah (umur sekitar 60-an), dan Amy, seorang mahasiswa sekitar 20-an atau bahkan lebih muda. Si pewawancara bernama Mike, hanya mengenakan celana short dan kaus oblong. Pokoknya suasana santai sekali (exactly the same environment I am looking for).
Mike minta kami bertiga untuk mengenalkan diri. Dengan bangganya saya bilang kalau saya barusan dapat work permit, dan mungkin ini kenapa sampai saat ini saya tidak tahu jika saya diterima atau tidak.
Interview berjalan lancar. Mike bertanya, “seandainya kamu bertemu seseorang di jalanan dan mengajak dia untuk memberikan sumbangan, tapi dia memilih untuk nanti memberikan sumbangan secara online saat dia tiba di rumah, bagaimana reaksimu?”
It’s rather difficult question, tapi entah kenapa saya bisa menjawab juga. Saya akan bilang ke dia, di sini di Amerika tak ada dampak apa-apa jika kita menunda sesuatu satu atau dua jam, tapi waktu yang terasa pendek tersebut akan sangat berdampak bagi banyak anak-anak di luar sana. Tahukah Anda berapa anak yang meninggal karena tidak mampu membeli obat-obatan? Tahukah Anda berapa anak-anak yang akan meninggal di tenggag waktu satu atau dua jam perjalanan Anda pulang ke rumah?
Haha… Agak ekstrem juga sampai Mike agak shock. Overall, interview berjalan mulus, bahkan Mike bilang kalau dia terkesan. Tapi, (Oh..oh) dia tidak begitu paham dengan urusan imigrasi dan akan tanya bosnya dulu kalau mereka bisa memperkerjakan seseorang yang menggunakan work visa. Saya dengan buru-buru langsung mengkoreski, “bukan work visa! Ini work Permit.”
Dia bilang akan telpon dalam beberapa hari ini. So far, sudah tiga hari dan belum ada berita. Saya tentu saja menyesal menyebutkan “work permit” segala. Pasalnya mereka sepertinya tidak tahu apa kegunaan work permit, saya khawatir ini justru akan menjadi kendala seandainya mereka memutuskan untuk tidak memperkerjakan saya. I wish I didn’t mention it in a first place.
Rencananya saya akan menunggu jawaban mereka dalam seminngu. Kalau tidak ada berita then I decide to move on, dan ya terpaksa coba cari kerja lewat temp agency.
Memang pekerjaan “Save The Children” ini hanya temporary. Tapi, saya SANGAT looking forward to it. Sepertinya ini pekerjaan yang sangat menarik dan penuh petualangan. Selain itu saat kontrak berakhir ada kemungkinan untuk bisa menghasilkan $ 5000-8000. Wah, ini bisa dipakai untuk pulang ke Indonesia. Atau paling kecil bisa menghasilkan $ 70 per day. Itu juga lumayan dibanding tidak menghasilkan apa-apa.
Well, untuk saat ini tetap berharap aja, semoga apa yang terbaik ini yang akan terjadi. Finger Crossed! (*)